Custom Search

Kamis, 01 Mei 2008

Mobil yang Melindungi Orang

Sumber:Kompas
A safe car protect people, and a safe car is more save with a safe driver ... (Sebuah mobil yang aman melindungi orang, dan sebuah mobil yang aman akan menjadi lebih aman dengan pengendara yang memerhatikan keamanan) Kata-kata bijak itulah yang melatarbelakangi langkah PT DaimlerChrysler Indonesia menyelenggarakan program Mercedes Benz Active Safety Experience di Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat, 6-13 Maret lalu. Lewat program Mercedes Benz Active Safety Experience itulah, PT DaimlerChrysler Indonesia ingin menunjukkan bagaimana cara kerja perangkat keamanan aktif yang melengkapi semua mobil produksi Mercedes Benz. Itu sebabnya dalam program yang selama delapan hari itu PT DaimlerChrysler Indonesia mengundang konsumen, calon konsumen, dealer, media massa, dan pihak-pihak lain untuk merasakan sendiri bagaimana perangkat keamanan aktif bekerja dalam situasi kritis atau keadaan darurat. Setiap mobil Mercedes Benz dilengkapi dengan perangkat keamanan aktif dan perangkat keamanan pasif. Perangkat keamanan aktif berfungsi menghindari terjadinya kecelakaan. Dengan kata lain, perangkat keamanan aktif berfungsi sebelum kecelakaan terjadi. Perangkat keamanan aktif itu mencakup antara lain electronic stability program (ESP), antilock brake system (ABS), dan PreSafe. Sementara itu, perangkat keamanan pasif bekerja pada saat kecelakaan terjadi. Perangkat keamanan pasif mencakup antara lain kerangka mobil yang diperkuat, bagian dari kerangka mobil yang berfungsi menyerap benturan (crumpled zone), besi penguat pintu (side beam), sabuk pengaman, dan kantung udara (airbag). Tentu saja, tidak ada orang yang mau merasakan sendiri bagaimana perangkat keamanan pasif. Itu sebabnya, pengujian perangkat keamanan pasif diuji coba di pabrik dengan menggunakan dummy (orang-orangan). Keadaan itu berbeda dengan perangkat keamanan aktif, banyak orang yang ingin merasakan sendiri bagaimana cara kerjanya. Mengingat dengan mengetahui situasi kritis dan bagaimana perangkat keamanan aktif itu bekerja, diharapkan pengendara dapat menghindari terjadinya kecelakaan dalam kehidupan yang sebenarnya. Program Mercedes Benz Active Safety Experience 2007 ini didukung oleh pabrikan ban Michelin, baik dalam penggunaan ban maupun servis pendukung. Jarak pengereman Dalam program yang dipimpin oleh instruktur berpengalaman yang khusus didatangkan dari Jerman ditekankan bahwa kecepatan mobil itu berkaitan erat dengan jarak pengereman, atau jarak yang diperlukan pengendara untuk menghentikan mobil yang dikendarainya. Tepatnya mulai dari pedal rem diinjak sampai mobil benar-benar berhenti. Dengan mengetahui jarak pengereman, pengendara juga akan dapat mengukur berapa jarak yang aman antara mobilnya dan mobil yang berada di depan, sesuai dengan kecepatan yang dikembangkannya dan waktu yang diperlukannya untuk bereaksi. Jarak pengereman itu termasuk dalam pelatihan pengereman darurat. Pelatihan berikutnya adalah menggarisbawahi kegunaan ABS. Dengan ABS, pengendara dimungkinkan untuk tetap dapat mengemudikan mobil ke kiri atau ke kanan untuk menghindari situasi kritis atau hambatan di depannya walaupun dalam keadaan pedal rem diinjak penuh. Hal itu terjadi karena sebuah mikroprosesor secara otomatis mengerem dan melepaskan rem secara terukur (dalam kecepatan seperseribu detik) sampai mobil akhirnya berhenti. Dan, karena roda terus berputar secara terukur, mobil tetap dapat dikemudikan. Pada mobil yang tidak dilengkapi dengan ABS, ketika pengemudi menginjak pedal rem secara penuh, keempat roda terkunci sehingga mobil tidak dapat dikemudikan lagi dan meluncur menurut garis lurus (seperti peti tanpa roda). Teknologi ABS pertama kali diperkenalkan pada 9 Desember 1970 di Stuttgart, Jerman, oleh penciptanya Hans Scherenberg, saat itu anggota Dewan Manajemen Mercedes Benz. Teknologi tersebut menjadi perlengkapan standar Mercedes Benz S-Class pada tahun 1978. Dalam pelatihan ini, pengendara diminta memacu mobil sampai kecepatan 80 kilometer per jam. Dan, sesampainya di kerucut plastik (cone) yang sudah diberi tanda, peserta diminta untuk menginjak pedal rem secara penuh dan sekaligus membelokkan mobil ke kiri guna menghindari empat kerucut plastik yang berada tepat di depannya. "Jangan melepas injakan pada pedal rem. Jika Anda merasa pedal rem bergetar, itu tanda bahwa ABS sedang bekerja," teriak pemimpin pelatihan. Dan, memang mobil tetap bergerak sesuai dengan kehendak pengendara dan berhenti di tempat yang aman walaupun pedal rem dalam keadaan diinjak penuh. Pelatihan berikutnya adalah slalom, double lane change, curve/circle, emergency manouver. Dan, yang paling menarik adalah saat melihat bagaimana perangkat PreSafe bekerja pada saat terjadi situasi kritis. Perangkat PreSafe itu mengenali secara dini indikasi akan terjadinya kecelakaan dan segera memfungsikan perlengkapan keamanan preventif untuk menekan risiko seminimal mungkin bagi pengendara dan penumpang saat kecelakaan benar-benar terjadi. Cara kerja PreSafe mirip gerak refleks pada makhluk hidup. Untuk mengetahui cara PreSafe bekerja, pemimpin pelatihan meminta peserta untuk membuka jendela dan membuka sunroof bagi mobil yang memilikinya. Dan, pada saat mobil melakukan manuver yang berbahaya dalam kecepatan tinggi, misalnya menghindari rintangan di depannya dengan membanting setir ke kiri atau ke kanan tanpa menginjak pedal rem, sabuk pengaman akan mengencang sehingga tubuh menempel pada sandaran kursi, jendela yang terbuka akan menutup, demikian juga sunroof, dan ESP akan segera bekerja untuk mengatasi oversteer dengan mengerem roda depan bagian luar. Yang dimaksud dengan oversteer adalah pada saat mobil menikung roda belakang cenderung slip keluar dari lintasan normal atau lintasan yang seharusnya. Khusus bagi kaca yang terbuka, akan menutup sampai 3 sentimeter (cm) dari atas, sedangkan yang tertutup akan membuka 3 cm. Tujuannya agar suara keras yang keluar dari mengembangnya kantung udara tidak membuat gendang telinga rusak. (JL)

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda